Copyright © 2010 A. Fatih Syuhud. All Rights Reserved. Snowblind by Themes by bavotasan.com. Powered by WordPress.
Archive for June, 2005
WASPADA Online 06 Sep 04 11:42 WIBOleh A Fatih Syuhud *Idealnya, setiap orang memiliki kebebasan personal plus tuntunanmanual untuk menggunakannya secara diskriminatif. Lingkungan sosialhendaknya diciptakan guna mendorong orang untuk berpikir dan memahamibahwa kebahagiaan abadi bukan terletak pada kenikmatan sensual danpeningkatan level konsumsi, tetapi dari pengertian mendalam akankebutuhan nurani dan berperilaku sejajar dengan kebutuhan nuranitersebut.Kebebasan personal dalam kondisi semacam ini adalah kebebasan yangmembebaskan. Tetapi apa yang harus dilakukan apabila kita mestimemilih antara “lingkungan diskriminatif” dan “kebebasan personal?”Apakah kondisi diskriminatif harus didahulukan dari kebebasanpersonal atau sebaliknya? Pertanyaan inilah yang sekarang lagi ramaidiperdebatkan menyusul kontroversi film BCG (Buruan Cium Gue).Kebebasan personal dapat dikategorikan dalam dua tipe – kebebasan takbermoral (licentiousness) dan kebebasan diskriminatif. Orang yangberperilaku asusila atau tak pantas tanpa memikirkan kepentinganjangka panjangnya masuk dalam kategori pertama. Orang semacam ini,atas nama kebebasan ekspresi, menggunakan kebebasannya untukberperilaku asusila – minum alkohol dan narkoba, berzina, mencuri,berbaju tidak layak di depan umum, dan lain-lain. Sebaliknya, orangyang memikirkan konsekuensi jangka panjang sebelum berbuat dikatakanperilaku kebebasan diskriminatif. Tipe kedua ini akan berpikirmengapa ia tak bahagia mengendarai mobil, sementara yang lain sudahpuas dengan memakai motor; mengapa ia tak puas mengendarai motorsementara yang lain bahagia naik bis kota. Atau, mengapa mabuk-mabukan di diskotik di suatu malam membuatnya tidak enak tidur. Jelasdi sini, bahwa kebebasan personal itu merugikan sedang kebebasandiskriminatif dan selektif membebaskan. Kondisi sosial mempunyaidampak menentukan pada sikap kita dalam menggunakan kebebasanpersonal. Seperti dua putri kembar yang menikah dengan dua keluargayang berbeda dan tumbuh dalam karakter yang berbeda setelah 20 tahun.Yang satu menikah dengan seorang ulama atau pendeta aktif dalamberbagai aktivitas keagamaan. Sedang yang lain menikah dengan seorangpebisnis selalu ingin memamerkan kekayaan dalam setiap pertemuansosial dengan mengenakan baju dan perhiasan mahal. Kedua putri kembaritu mewarisi kedua tendensi, tetapi perkembangan mereka tidak samakarena ditempatkan dalam kondisi sosial yang berbeda.Setiap individu ingin berbahagia dan memiliki hak kebebasan dasaruntuk mencari kebahagiaan sesuai dengan keinginannya. Akan tetapimasyarakat memiliki tanggung jawab untuk membantunya menggunakankebebasan itu dengan benar. Kondisi sosial harus mendorong oranguntuk menggunakan kebebasan mereka secara selektif dan diskriminatifdaripada hanya digunakan untuk memenuhi keinginan asusilanya.Produser film dan sinetron memiliki hak dan kebebasan untukmemproduksi film apapun. Akan tetapi, apabila kebebasan itu digunakanuntuk mempromosikan nilai-nilai vurgar dan amoral di kalangangenerasi muda, maka hal ini hanya akan menggiring generasi mendatangpada kebebasan yang tidak bertanggung jawab; kebebasan artifisialyang dampak negatifnya sudah mulai kita lihat dan saksikan bersama.Benar, setiap orang hendaknya mendapatkan hak dan kebebasan untukmemilih gaya hidup yang dia suka, yang akan membuatnya bahagia. Iniartinya bahwa ia harus diberi kebebasan personal dan kondisidiskriminatif-selektif. Dari dua hal tersebut, kondisi diskriminatifjauh lebih penting. Seseorang yang hidup dalam lingkungan semacamitu, dengan kebebasan personal agak terbatas, akan tetap bergerakmaju -walau agak lambat. Akan tetapi, seseorang yang memilikikebebasan personal dalam lingkungan asusila akan merugikan dirinyasendiri dengan berperilaku yang berlawanan dengan kepentingan jangkapanjangnya. Kemajuan yang lambat akan lebih baik dari pada bergerakmundur. Jadi, kondisi diskriminatif dan selektif hendaknya lebihdidahulukan daripada kebebasan personal.Memang, United Nations Development Programme (UNDP) mengatakan dalamedisi terbaru Human Development Report (HDR) bahwa kebebasan personalmerupakan nilai final. Sayangnya, HDR tidak menyinggung peranlingkungan. Ia memberi contoh Mahatma Gandhi yang menggunakankebebasan personalnya, setelah melakukan refleksi mendalam, untukmemperjuangkan Kemerdekaan India bukan mencari profesi hukum diInggris yang lebih menjanjikan. UNDP mengatakan bahwa setiap individuharus memiliki kebebasan itu guna dapat hidup menurut konsepsinyasendiri sebagaimana Gandhi memiliki kebebasan memilih aktivitas yangdia suka.Argumen UNDP ini tentu saja sangat valid. Akan tetapi perlu adajaminan bahwa kondisi sosial juga sudah mapan. Gandhi hidup dalamlingkungan sosial yang membuatnya termotivasi melakukan pemikirandiskriminatif-selektif. Seorang anak besar kemungkinan akan menjadipencuri apabila ia dibebaskan hidup dalam lingkungan pencopet.Kebebasan itu membebaskan dalam suatu lingkungan diskriminatif-selekif dan akan merusak dalam lingkungan sosial asusila. UNDP lupapoin krusial ini. Sementara UNDP membuat contoh seorang Gandhi, ialupa mencatat bahwa Gandhi menggunakan kebebasannya setelah refleksimendalam. Kebebasan personal memang membebaskan dalam lingkungandiskriminatif-selektif. Tetapi UNDP mengacuhkan peran krusiallingkungan sosial dan menekankan kebebasan sebagai nilai yang berdirisendiri. Akibatnya, pendekatan UNDP ini sejajar dengan seseorang yangmenggunakan kebebasan personalnya untuk tujuan kesenangan sensual,vulgarisme dan berbagai aktivitas anti-sosial lainnya.UNDP memberi label pada kultur yang tidak memberikan kebebasanpersonal sebagai tidak manusiawi (inhuman). Kultur Timur secaratipikal lebih memfokuskan “Realitas” dalam diri dari pada memperlebarkesenangan sensual. Ajaran Islam mendorong wanita untuk mengenakanjilbab agar tidak menciptakan daya tarik seksual dalam perkumpulansosial. Tradisi Budha menganjurkan pemeluknya untuk mengikuti jalantengah guna mencegah eksesivitas pada apapun. Tradisi Hindumenganjurkan kalangan muda untuk memilih pekerjaan seperti orangtuanya agar supaya ia tidak membutuhkan banyak waktu untukmempelajari cara baru untuk mendapatkan uang yang sama yang dapat iacapai lebih mudah dengan mengikuti tradisi keluarganya.Agama lebih memberikan prioritas pada lingkungan diskriminatif-selektif dan, dengan demikian, kebebasan personal yang agak terbatas.Agama menolak kebebasan personal guna mendorong, bahkan memaksa,pemeluknya untuk melakukan kebebasan diskriminatif-selektif; persisseperti badan sensor film membatasi kebebasan pada film-filmtertentu. Dus, lingkungan sosial diskriminatif harus lebihdiprioritaskan walaupun musti mengorbankan kebebasan personal.UNDP mengatakan bahwa restriksi pada kebebasan personal tidak baik,karena kebebasan personal merupakan nilai yang sudah terbukti (self-evident). Seseorang harus dibebaskan menonton film vulgar. Tidak adabukti bahwa kebebasan personal semacam itu akan merusak ataumerugikan. Implikasi dari pandangan UNDP ini adalah bahwa kebebasanasusila lebih baik daripada kebebasan restriktif-diskriminatif. UNDPmendorong kebebasan asusila dengan tidak membahas masalah lingkungansosial. Ia menjustifikasi hubungan homoseksual dan lesbian (hal.19).UNDP mengatakan bahwa globalisasi harus diikuti total karena iamemberikan keuntungan ekonomi walaupun dapat berdampak kerusakankultural (hal.20). Bahwa perkembangan kultural hendaknya tidakterlalu dipandang penting karena akan menghalangi kemajuan ekonomi(hal.41).Jadi jelas, tujuan dari UNDP adalah mempromosikan konsumerisme danasusila. Kesejahteraan jangka panjang individu dan masyarakatdikorbankan demi pertumbuhan ekonomi, konsumsi dan kebebasanpersonal. Pendapat yang sama juga dianut oleh kalangan pro-kebebasanberekspresi total yang memprotes himbauan Aa Gym dan MUI terhadapfilm BCG.* Penulis adalam mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra Universitydan Research Associate Zakir Hussein Institute of Islamic Studies NewDelhi, India.indonesia
Continue Reading »WASPADA Online 16 Aug 04Oleh A Fatih Syuhud *Secara historik, istilah “fundamentalisme” diatribusikan pada sekte Protestan yang menganggap Injil bersifat absolut dan sempurna dalam arti literaldan, dengan demikiran, mempertanyakan satu kata yang ada dalam Injil dianggap dosa besar dan tak terampuni.Dalam konteks ini, Kamus Oxford mendefinisikan fundamentalisme sebagai “pemeliharaan secara ketat atas kepercayaan agama tradisional seperti kesempurnaan Injil dan penerimaan literal ajaran yang terkandung di dalamnya sebagai fundamental dalampandangan Kristen Protestan”. Julukan ini, walaupun dimaksudkan untuk menggarisbawahi ketaatan absolut kaum Protestan atas ajaran Injil, tidaklah dipakaiuntuk melecehkan.Konsep asal fundamentalisme itu sekarang menjadibagian masa lalu. Selama lebih dari dua setengahdekade, interpretasi baru dari istilah ini menjadipopuler. Fundamentalisme menjadi sinonim denganekstremisme dan radikalisme yang berakar dariintoleransi agama. Persepsi ini jelas tidak tepat danmenyesatkan karena fundamentalisme tidak dapatdisejajarkan dengan esktrimisme dan radikalisme. Yangpertama bermakna ketaatan penuh pada ajaran-ajarandasar agama yang dilakukan oleh para penganut taatsuatu agama, sebaliknya makna kedua ditolak olehseluruh penganut agama yang benar.Interpretasi fundamentalisme menjadi kontroversialkarena ia jarang dipakai secara imparsial, objektifdan rasional. Aplikasi makna fundamentalisme esensinyaberdasarkan pada apa yang dipahami dan dinyatakan olehbeberapa kelompok tingkat tinggi dari kalanganpolitisi, akademisi dan media. Di tengah terjadinyaIslamofobia dan histeria antimuslim yang terjadi disejumlah negara Barat, khususnya di AS dan Israel,saat ini istilah fundamentalisme digunakan secarasubjektif, selektif dan bias untuk melecehkan danmenjatuhkan Islam dan menggambarkannya sebagai ancamanpada peradaban Barat. Propaganda anti-Islam”fundamentalis” dan “militan” semakin meningkat sejakrevolusi Iran pada 1979. Sejumlah pemimpin Barat danakademisi serta kelompok media berpengaruh denganpenuh semangat berpartisipasi dalam usaha ini. Sepertiyang dikatakan Presiden AS Richard Nixon,”Fundamentalisme Islam telah mengganti komunismesebagai instrumen pokok perubahan dengan carakekerasan.”Nixon juga mengatakan, “Ideologi komunis menjanjikanmodernisasi cepat, sedangkan ideologi revolusi Islamadalah reaksi atas modernisasi. Komunisme berjanjiuntuk mempercepat putaran jam sejarah ke depan, sedangIslam fundamentalis hendak membalik sejarah ke masalalu”. Implikasi implisit ucapan Nixon ini adalahbahwa “fundamentalisme Islam” memiliki potensi sebagaiancaman lebih besar daripada komunisme.Dalam buku”Satanic Verses”, Salman Rushdie berpendapat bahwa”Islam”-lah yang bertanggung jawab dalam”mempromosikan kebencian pada peradaban modern”.Samuel P Huntington, dalam “The Clash ofCivilisation”, mengingatkan dunia Barat atas berbagaiancaman yang berasal dari Islam. Dalam “Todays NewFascists”, Francis Fukuyama mengungkapkankekuatirannya atas bangkitnya “Islam-Fasis” baru.Ungkapan Fukuyama ini merupakan kelanjutan darikekuatirannya atas munculnya “Islam radikal” yangdibahas mendetail dalam bukunya “The End of Historyand the Last Man”. Namun demikian, tidak ada yangdapat menandingi V S Naipaul, pemenang Nobel, dalammenyerang Islam. Hal ini dapat dilihat dari kata-katasarkasmenya, seperti “Terlukanya peradaban Indiamerupakan hasil kerja Islam” (dalam bukunya A WoundedCivilization), “Muslim non-Arab adalah pemeluk tidakotentik..” (dalam Among the Believers), dan “Islam itumenjijikkan” (dalam Beyond Belief)Berbagai macam penghinaan terhadap Islam, baik dengankekerasan maupun nonkekerasan, mencapai proporsi yangmengkhawatirkan pasca-serangan teroris pada gedung WTCdan Pentagon pada 11 September 2001. Berbagai usahadirekayasa untuk menghubungkan Islam dengan terorismetelah menyulut ketegangan komunal di sejumlah negaraBarat, khususnya AS. Banyak yang dilecehkan dandiperlakukan tidak manusiawi hanya karena memakai namaMuslim dan memelihara jenggot dan jilbab. Di atassemua itu, invasi pimpinan AS ke Afghanistan dan Irakplus peningkatan serangan Israel pada rakyat Palestinasemakin mempersulit masalah dan semakin menjauhkandiri dari skenario kerukunan global antaragama.Banyak kalangan yang anti “fundamentalisme Islam” disatu sisi mengklaim dirinya komitmen pada demokrasi.Akan tetapi, pada waktu yang sama mereka tidaksegan-segan menyerukan untuk melakukan segala caradalam memberantas fenomena “Islam fundamentalis”,termasuk dalam hal ini, dengan cara kekerasan yangjelas-jelas tidak demokratik. Ann Coulter, umpamanya,menyerukan: “Kita hendaknya menginvasi negara-negaramereka (Muslim), membunuh pemimpin mereka danmengkonversi mereka dalam pelukan Kristiani”; RichLowry menyerukan AS supaya “mengebom Mekkah”. Senadadengan seruan kedua kolumnis konservatif AS ini,berbagai tulisan Salman Rushdi yang menentang Islam,Nabi Muhammad dan umat Islam dipandang sebagai bentukkebebasan berekspresi, tetapi berbagai kritikan padabuku kontroversialnya “Satanic Verses” (Ayat-ayatSetan) dianggap sebagai manifestasi dari fanatisisme.Tidakkah wajar dan logis kalau kita anggap bahwa sikapsemacam itu sebagai contoh konkrit standar ganda danhipokrisi?Harus diakui, kelompok radikal dan militan di antarapemeluk Islam itu ada. Dalam tubuh agama lain jugaterdapat elemen-elemen ekstrim semacam itu. Akantetapi, secara faktual mereka, kalangan ekstrimis diberbagai agama ini, adalah bagian kecil dari populasidunia dan secara bulat ditolak keberadaannya olehbangsa-bangsa pecinta damai dan penegak keadilan,termasuk oleh negara-negara Islam. Seluruhnegara-negara dunia, dengan pengecualian Afghanistandi bawah rezim Taliban, mengecam serangan teroris 11/9di Amerika. Bahkan Abdullah Awad, kakak kandung Osamahbin Laden, mengecam serangan itu sebagai “pelanggaranmendasar pada prinsip-prinsip utama Islam.” Apalagi,sejak itu seluruh negara Muslim meningkatkan usahamereka untuk memerangi dan mencegah terorisme. Denganadanya fakta-fakta tak terbantahkan ini, apakahmenghubungkan Islam dengan fundamentalisme danterorisme masih relevan?Sayangnya, istilah fundamentalisme dan terorismesecara eksklusif selalu diidentikkan dengan Islamtanpa memandang realitas di lapangan. Apakah iniberarti bahwa tidak ada individu atau kelompok dalamagama Kristen, Yahudi, Hindu dan non-Muslim lain yanglebih berhak menyandang “gelar” itu? Tidakkahmenghakimi Islam dengan hanya berdasarkan kebijakanopresif Taliban di Afghanistan dan tindakan brutal AlQaidah itu bagaikan menghakimi Kristen dengan aksibarbar Adolf Hitler di Jerman, Benito Mussolini diItalia dan Slobodan Milosovic di Bosnia? Karenatindakan ekstrimisme yang dilakukan Ariel Sharon tidakmembuat umat Yahudi disebut sebagai “fundamentalisZionis”, maka sudah logis kiranya kalau tindakanradikal Mullah Umar dan Usamah bin Ladin tidakmenjadikan 1.3 milyar Muslim sebagai “Islamfundamentalis”. Begitu juga, apabila jaringan radikalIslam semacam Al Qaidah atau kelompok pemberontak diFilipina seperti Abu Sayyaf disebut sebagai “terorisIslam”, maka julukan yang sama hendaknya dilekatkanpada tindakan terorisme yang dilakukan oleh TimothyMcVeigh di Amerika dan kultus Aum Shimrikoy di Jepang.Di era sekarang di mana dunia dipenuhi dengan berbagaiproblem dan konflik ini, sangat dibutuhkan adanyaberbagai usaha maksimum untuk mempromosikan perdamaiandan keamanan. Namun demikian, hal ini akan tetapmenjadi mimpi sampai perpecahan agama dapatdijembatani dan harmoni antaragama terbentuk.Menyudutkan satu agama tidak akan membuat bertambahnyaprestise dan keamanan agama lain. Begitu juga,fenomena patologis seperti fanatisisme, kebencian,irasionalitas, ketakutan yang berakar dariketidakpedulian dan pikiran picik, hanya akanmemperlebar polarisasi agama.Idealnya, isu sulit seperti ekstremisme dan terorismehendaknya didekati dengan pikiran terbuka dan tanpabias agama. Diperlukan juga memperhatikan akarpenyebab, bukan hanya gejala dari fenomena tersebut.Karena, tidak ada negara atau sekelompok negara,bagaimanapun kuatnya, dapat memerangi danmenyelesaikan tantangan ini secara efektif sendirian.Dengan demikian, tidak ada alternatif dalam mengatasihal ini kecuali dengan kerja sama global.* Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu PolitikAgra University, India.indonesia
Continue Reading »WASPADA Online, 13 Aug 04 Oleh A Fatih Syuhud *Dunia luar mungkin tidak menganggap perlu untukberkunjung ke kawasan Darfur, Sudan bagian barat, yangumumnya tandus dan terputus dari pandangan dunia.Tetapi kenyataan itu tidak menghentikan komunitasinternasional untuk mengetahui tragedi apa yang sedangterjadi di kawasan itu.Tindakan yang awalnya dimaksudkan sebagai usaha untukmencegah aktivitas pemberontakan itu ternyata berubahmenjadi bencana kemanusiaan yang menyedihkan. Ketikaetnis Afrika yang tinggal di kawasan itu mulaimengadakan aktivitas pemberontakan, melancarkanberbagai serangan pada garnisun aparat kepolisian danbandar udara di daerah itu, mereka berhadapan denganpasukan bersenjata berkuda Arab nomad, yang dikenaldengan Janjaweed, yang diperkirakan menjadikepanjangan tangan dari pemerintahan di Khartoum.Akibatnya, warga sipil yang tinggal di sekitar daerahitu terperangkap di tengah-tengah dua kekuatan yangsedang bertempur.Sebagaimana dilaporkan, berdasarkan foto udaraAmerika, terdapat 300 desa, dari 576 perkampungan yanghancur total. Kisah tragis tentang pemerkosaan olehmilisi yang menang dilaporkan oleh kalangan pengungsiyang berhasil melarikan diri. Sekitar satu juta orangdikabarkan terusir dari rumah mereka, 150.000 ataulebih melarikan diri ke sepanjangperbatasan negaraChad. Pemerintah Sudan mengatakan situasi yang terjadisudah dilebih-lebihkan oleh kalangan luar, dan menolaktuduhan bahwa pemerintah mendukung milisi Janjaweedatau bahwa sedang terjadi pembunuhan masal di kawasanitu.Tetapi Sekjen PBB, Kofi Annan, dan Menlu AS, ColinPowell, yang mengunjungi perkemahan para pengungsi,tampak tidak yakin. Keduanya memperingatkan Sudahbahwa waktu sudah habis bagi pemerintah Sudan untukmembalik situasi di Darfur atau kalau tidak, Sudanakan menghadapi reaksi keras komunitas internasional,yang dapat bermakna berbagai sangsi atau bahkanmungkin tindakan militer. Pemerintah Sudan tampaknyamemahami betul ancaman itu. Menlu Sudan pun akhirnyaberjanji untuk bekerja sama.Dalam suatu jumpa pers di Ethiopia (13/7), Usman AlSaid, duta besar Sudan untuk Uni Afrika (UA)menyatakan, “Sudah tidak sepakat dengan resolusi DewanKeamanan (DK) PBB, tetapi kami akan mentaati resolusiitu. Sebab, seandainya tidak, kami tahu musuh-musuhkami tidak akan ragu untuk mengambil langkah melawannegara kami.”Dalam kesempatan yang sama, Al Said menambahkan,”Sudan menerima keputusan DK PBB dalam soal Darfur,karena ia anggota PBB dan tidak ada pilihan lain.Sudah tidak akan menjadi Israel kedua, yang tidakpunya respek pada keputusan badan dunia.”Pernyataan Al Said soal ketidakrespekan Israelterhadap PBB itu sebenarnya juga menghinggapi pikiranbanyak orang di dunia. Namnun, yang menjadi pertanyaankita adalah mengapa Kofi Annan dan Colin Powell tidakdapat menunjukkan ketegasan dan keberanian yang samadalam kasus tragedi kekejaman yang dilakukan olehIsrael? Baru beberapa minggu yang lalu InternationalCourt of Justice (ICJ) mengeluarkan keputusan yangmenyatakan bahwa “pagar keamanan” yang sedang dibangunoleh Israel di kawasan Palestina yang diduduki, denganmemotong perkotaan dan ladang warga Palestina, adalahilegal dan harus dirobohkan. Di PBB, sebuah resolusitelah disepakati di Majelis Umum dengan 150 suara,dengan hanya enam yang menentang dan 10 abstain,meminta Israel agar mentaati keputusan ICJ tersebut.Situasi di lapangan di kawasan Palestina yang didudukidan penderitaan yang dialami warga Palestina tidakhanya bisa dilihat melalui foto udara atau melaluikisah para pengungsi. Setiap hari, tentara Israelmenghancurkan rumah-rumah, ladang dan kebunbuah-buahan warga Palestina, dan membunuhi mereka.Namun demikian, mereka tidak mampu sedikitpun untukmengajukan draft resolusi ke Dewan Keamanan PBB karenapasti akan diveto oleh Amerika Serikat yang berartipekerjaan yang sia-sia.Karena keputusan ICJ dan resolusi Majelis Umum PBBsama-sama tidak mengikat, maka Israel bebas meneruskanproyek pagar keamanan-nya, yang pada akhirnya, menurutpara analis, akan merubah kawasan Palestina menjadikota-kota yang terkepung musuh.Rakyat di Darfur tampaknya dapat mencapai dalam 17bulan apa yang tidak dapat dicapai oleh rakyatPalestina dalam tiga dekade: dukungan bulat komunitasinternasional termasuk, yang terpenting, dukungan AS.* Penulis adalah mahasiswa pascasarjana Ilmu PolitikAgra University,India.indonesia
Continue Reading »Rainy season or monsoon-as we in india used to call it- has come. during three days, the climate has been great more or less like in indonesia. it makes me a bit homesick and the urge to going home become stronger. monsoon season will continue until the winter season comes where we’ll be through the extreme cold season.india, due to geographical reason, has three unique season: (extreme) summer, and (extreme) winter, in between the two there’s season called monsoon or rainy season.by the way, last night i saw aishwarya rai becomes of the guest of oprah winfrey show. the audience looks so stunning with her beauty and the way she talk fluent english. aishwarya rai in india just like prince diana to the british: no one ever criticise her nor despise her. everything she’s doing just right, even if it’s not.
Continue Reading »The word “Islam” itself means “Submission to Allah.” The religion of Islam is not named after a person as in the case of “Christianity” which was named after Jesus Christ, “Buddhism” after Gutama Buddha , “Marxism” after Karl Marx, and “Confucianism” after Confucius.
Similarly, Islam is not named after a tribe like “Judaism” after the tribe of Judah and “Hinduism” after the Hindus. The Arabic word “Islam” means the submission or surrender of one’s will to the will of the only true god worthy of worship, “Allah” (known as God “the Father” in Christianity).
The Qur’an states that all Muslims must believe in God, his revelations, his angels, his messengers, and in the “Day of Judgment”.
Five Pillars of Islam
1. The shahadah, which is the basic creed or tenet of Islam: “‘ašhadu ‘al-l? il?ha ill?-ll?hu wa ‘ašhadu ‘anna mu?ammadan ras?lu-ll?h”, or “I testify that there is none worthy of worship except God and I testify that Muhammad is the Messenger of God.” This testament is a foundation for all other beliefs and practices in Islam. Muslims must repeat the shahadah in prayer, and non-Muslims wishing to convert to Islam are required to recite the creed.
2. Salah, or ritual prayer, which must be performed five times a day. Each salah is done facing towards the Kaaba in Mecca. Salah is intended to focus the mind on God, and is seen as a personal communication with him that expresses gratitude and worship. Salah is compulsory but flexibility in the specifics is allowed depending on circumstances. In many Muslim countries, reminders called Adhan (call to prayer) are broadcast publicly from local mosques at the appropriate times. The prayers are recited in the Arabic language, and consist of verses from the Qur’an.
3. Zakat, or alms-giving. This is the practice of giving based on accumulated wealth, and is obligatory for all Muslims who can afford it. The zakat is considered a religious obligation (as opposed to voluntary charity) that the well-off owe to the needy because their wealth is seen as a “trust from God’s bounty”.
3. Sawm, or fasting during the month of Ramadan. Muslims must not eat or drink (among other things) from dawn to dusk during this month, and must be mindful of other sins.
4. Sawm is not obligatory for several groups for whom it would constitute an undue burden. For others, flexibility is allowed depending on circumstances, but missed fasts usually must be made up quickly.
5. The Hajj, which is the pilgrimage during the Islamic month of Dhu al-Hijjah in the city of Mecca. Every able-bodied Muslim who can afford it must make the pilgrimage to Mecca at least once in his or her lifetime.
—
Footnote:
Islamia.com
Wikipedia.org
ibid
Government of Andra Pradesh has decided to give five percent job quota to muslim minority. this sparks pro and cons, both from hindus and muslims. the idea is considering many indian muslim backwardness (in terms of education) in the state, they need to be uplifted and helped by way of quota; a policy which has been done to other ‘backward’ community like schedule caste (sc) and tribal caste (tc) which has got 30 percent job quota in government offices. the pros muslims as minority needs quota because they got ill-treatment and discrimination from hindu officials who recruit the job seeker. besides, why the fuss with the five percent quota for muslims; and being quiet with 30 percent quota for sc and tc and obc? is it the religious bias or what? (the pros wonder…)the cons: muslims no needs quota because the existing quota policy is not healthy development in a democratic country. if the gov. wanna help muslims they should help educate the muslims youth till higher education and only then they can be independent and having a better life. the main idea of this plan actually the gov. just wanna appease muslims voters so that muslims will vote for them again in the next election. of course, the AP gov. denies this charges.
Continue Reading »Monsoon season or rainy season start coming. Kolkata (formerly Calcutta), Mumbai (formerly Bombay) got the torential rain. i saw the people on the street jubilant. and they do that for good reason after going through torturing days for several days. In the capital new delhi and surrounding areas like haryana, agra, aligarh, etc the rain last night came for a few minutes. not so much, but enough to reduce the mammoth heat that makes about 9 people got heatstroke and died.i expect the big rain will come sooner rather than later.india indonesia
Continue Reading »




