Copyright © 2010 A. Fatih Syuhud. All Rights Reserved. Snowblind by Themes by bavotasan.com. Powered by WordPress.
Oleh: A. Fatih Syuhud
Nabi Muhammad menyebut bulan Ramadan sebagai bulan kesabaran. Dan Quran menyatakan bahwa puasa di bulan ini diwajibkan agar supaya manusia menjadi bertakwa (QS 2:185). Kita dituntut memiliki dua kualitas kepribadian yakni sabar dan takwa setiap bulan dalam setiap tahunnya. Mengapa kedua sifat ini disebut secara khusus dalam hubungannya dengan bulan Ramadan?
Salah satu alasannya adalah Ramadan merupakan bulan spesial setiap tahunnya di mana dua kepribadian ini harus ditanamkan. Memang, sabar dan takwa dituntut dimiliki setiap Muslim setiap hari dalam setahun dan setiap tahun selama hidup. Ia menjadi bagian dari kode etik yang harus dipedomani oleh Muslim setiap saat. Tetapi pada satu bulan yang khusus ini, kedua watak ini lebih ditekankan lagi agar supaya ia menjadi bagian integral dari karakter seorang Muslim. Hal ini dilakukan dengan cara memberlakukan suatu displin tertentu, sehingga ketika umat Islam hendak melakukan sesuatu, mereka akan menahan diri untuk melakukannya, apabila ia merupakan perilaku yang tidak menyenangkan atau dikehendaki Allah. Apabila mereka ingin minum atau makan sesuatu, bagaimanapun kuatnya hasrat itu, mereka tidak akan melakukannya apabila hukum Allah melarangnya.
Mereka akan mengikuti kehendak Allah tanpa melihat kondisi dan tanpa memperdulikan berbagai kesulitan yang dihadapi dalam proses menuju ke arah itu. Bahkan sekalipun itu berarti harus meninggalkan atau menahan diri dari apa yang mereka anggap sangat mereka sukai dan cintai, mereka tidak akan meninggalkan jalan Allah.
Ramadan adalah semacam “Kursus Kilat” yang dimaksudkan untuk mengisi hati umat Islam dengan spirit religius yang sebenarnya dan menjadikan mereka sadar atas tanggungjawabnya terhadap Allah dan kemanusiaan. Selama satu bulan dalam setahun, umat Islam mencurahkan waktunya untuk beribadah dan berpuasa. Dengan jalan ini, umat Islam dilatih untuk bersikap dan berperilaku dalam setiap tindak-tanduknya di jalan yang dituntun Allah. Bangun dan tidur kita, makan dan tidak makan kita, tindakan dan kediaman kita haruslah selaras dengan perintah dan kehendakNya.
Beginilah bagaimana semestinya seorang makhluk Allah dalam bersikap dan berperilaku. Tidak hanya dalam kesempatan dan bulan tertentu, tetapi setiap hari dalam setahun. Selama sebulan, kebiasaan-kebiasaan tertentu diberlakukan sebagai bagian dari latihan kedisiplinan, agar supaya pada bulan-bulan berikutnya, kita tidak lagi mengalami kesulitan dalam melakukan kontrol yang sama dalam seluruh tindakan-tindakan keseharian kita.
Banyak yang terkesan dan terilhami dengan kualitas kesabaran dan ketakwaan yang ditunjukkan selama bulan Ramadan. Bahkan individu yang biasa dan lemah-kemauan pun dapat memelihara standar tinggi yang sama di bulan yang suci ini.
Tentunya, mereka akan lebih terkesan lagi kalau kita dapat meneruskan perilaku selama bulan Ramadan ini di bulan-bulan lain selama masa kehidupan kita.[]






